“Tulislah sebelum terlupakan.”
.
“Bahagia tidak hanya ditunggu, tapi mesti dijemput.”
.
Berfoto bersama anak-anak.
Buku paling kiri adalah anak pertama, lahir 2014, saudara kembarnya anak kedua yg sama2 lahir tahun 2014.
.
Buku pocong, anak ketiga lahir 2015, ketika masih SMP. Dan buku yg monokrom lahir tahun 2017, SMA kelas 2.
.
Buku yg dipegang buku kelima. Buku pengembangan diri pertama yg berhasil gue lahirkan berjudul “Hidup Ceria Menuju Bahagia.”
.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah mengiri perjalanan 6 tahun gue mengarungi dunia kepenulisan. Mulai dari tahun 2014 sampai sekarang,… dan seterusnya.
.
Bisa baca info, sampel dan beli buku2nya di website (link ada di bio).
.
#buku #nonfiksi #penulis #esto
https://www.instagram.com/p/B9HHUpIhl1T/?igshid=gznfvpjwnu5z
Jangan seenak jidat kalo menafsirkan ayat Alquran.
.
Kalimat nan singkat di atas gue dapatkan ketika selesai (bahkan baru awal2) membaca buku karya Pak Quraish Shihab ini. Sudah jelas beliau pakar tafsir yg tak perlu diragukan lagi kecakapannya.
.
Pak Quraish menghidangkan 40 penafsiran QS Al Maidah: 50 dari ulama yang berbeda bahkan lintas mahzab. Diurutkannya dari yang terdahulu sampai yang paling baru. Dari 40 tafsir tersebut, ditarik kesimpulan dan sedikit banyak pula merujuk ke Tafsir Al Mishbah yang mana kitab tersebut merupakan karya monumentalnya.
.
Membaca buku ini, menyadarkan gue sebagai awam untuk tidak memonopoli kebenaran. Karena satu firman pun mempunyai “banyak kebenaran”. Asal jangan ribut2 karena beda penafsiran. Asal tafsiran tersebut menjunjung tinggi “slogan” amar makruf nahi munkar.
.
Ada bagian di buku ini sedikit menyinggung mengenai Pilkada DKI Jakarta lalu. Nah… Selanjutnya bisa baca sendiri takut gue salah tafsir. 😁
.
Buku ini cocok buat orang yang gak mau teriak kenceng2 padahal cuma memahami Al Quran dari terjemahan Arab-Indonesia doang. Karena tafsir sama terjemahan itu beda, walau ada samanya juga. Bukan di sini tempat buat membahas beda tafsir dan terjemahan (bisa baca bukunya @nadirsyahhosen_official “Tafsir Al-Quran di Medsos” sebagai referensi).
.
Satu lagi, buku ini membawa pesan damai dan kedamaian. Ciri khas dari karya-karya Prof Quraish.
.
Angka 4.7 dari 5 layak didapatkan buku ini.
.
This is what I get, share what you get.
.
#book #islami #islamic #almaidah51 #quraishshihab #tolerance
https://www.instagram.com/p/B53AgqHBJA2B4WQMDnkC2qCKDCI99WYqFiFrwA0/?igshid=1wfsau6pdtyo5
Hidup bukanlah keadaan gawat darurat.
.
Begitu kurang lebih yang gue dapatkan setelah membaca buku ini beberapa kali, khususnya di bab-bab tertentu.
.
Buku karangan Richard Carlson menurut gue adalah antitesis dari bukunya Mark Manson yg berjudul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”, yg udah gue baca berulang kali juha (karena dua buku ini sangat menarik). Sampai2 gue cari tulisan mereka berdua di internet, agak capek juga sih karena gak nemu yg udah diterjemahkan ke bhs Indonesia. 😅
.
Buku ini lebih menekankan untuk menganggap semua hal yg ada di hidup kita itu wajar terjadinya. Bahkan gagasan2 yg ada di buku ini tidak sedikit yg bersinggungan dengan buku Filosofi Teras (sudah gue review di post sebelumnya).
.
Nah, karena hal itu wajar terjadinya, jadi yg perlu kita lakukan adalah menyikapinya dengan “biasa” saja. Misal pasanganmu tiba2 marah, itu memang wajar.
.
Lebih lanjut, buku ini memandu pembacanya untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Ketika pasangan marah, ya jangan dibikin marah lagi, beri pengertian dan cari jalan penyelesaian yg “wajar” karena semua masalah adalah “wajar”. Jangan matiin api pake bensin, gitu intinya.
.
Dan, covernya, cantik betul dah. Ciamik!
.
Well, I rate this book with 4.5 of 5.
.
This is what I get, share what you get.
#book #review #richardcarlson #gramedia
https://www.instagram.com/p/B5Imby1AAcQuw66h2kEipholN4N5u2zuz9Wyrw0/?igshid=n6tanqxsx879
Trisurya.
.
Pada 100 halaman pertama, Anda akan dibuatnya bosan. Tapi ketika mencapai halaman 460, Anda akan dibuatnya sedih karena tak ada lagi cerita yang dapat dibaca.
.
Ketika membaca 100 halaman pertama, jujur, gue bosannya bukan main. Malah ada niatan untuk berhenti membaca dan beralih ke buku yang lain. Cuma, yang membuat gue terus membacanya yakni: udah nanggung beli. Itu aja.
.
Trisurya merupakan novel terjemahan karya Liu Cixin. Ya, negara asal novel ini dari Tiongkok. Judul awalnya yakni San Ti kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Three-Body Problem. Kemudian diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Trisurya. Temen-temen akan tau kenapa jadi Trisurya setelah membacanya , setidaknya sampai pertengahan bukunya.
.
Cerita awalnya tentang revolusi kebudayaan di Tiongkok pada pertengahan abad 20. Nah, sedikit spoiler, buku ini akan terasa sains fiksinya di bagian kedua, atau kira-kira bagian seperempat bukunya. Jadi sabar aja buat 100 halaman pertama dan tunggu kejutannya.
.
Selengkapnya bisa dicek di blog gue (link di bio).
.
Well, I gave this book 4 of 5 stars.
.
This is what I get, share what you get.
#book #bookreviews #novel #sciencefiction #thethreebodyproblem #chinese #novel
https://www.instagram.com/p/B4VF57anPH4/?igshid=18oc0v54i4qhs
💬
.
“Sejak 2.000 tahun yang lalu, yang namanya iri pada pencapaian, apalagi kekayaan sudah umum. Padahal belum ada media sosial yang memudahkan kita untuk pamer kekayaan.”
.
Kalimat di atas terdapat di buku yang ditulis oleh Henry Manampiring yang berjudul Filosofi Teras. Ya, buku ini memang menjadikan filsafat stoa (stoisisme) sebagai dasar yang dapat terlihat pada judulnya yang jelas-jelas ada filosofinya. Filosofi teras merupakan filsafat yang telah lahir sekitar 2.300 tahun yang lalu. Tapi ini masih sangat relevan dengan kejadian-kejadian hari ini.
.
Nah, di filosofi teras ada sebuah teori yang bernama dikotomi kendali. Maksudnya, kita tuh hanya berkutat dengan dua hal: di dalam kendali dan di luar kendali kita. Sesuatu yang berada di dalam kendali kita yakni pertimbangan, keinginan, tujuan, dan segala sesuatu yang berasal dari pikiran dan tindakan kita. Sedangkan yang di luar kendali kita antara lain kekayaan, opini orang lain, reputasi, kesehatan, dan segala sesuatu yang asalnya bukan dari diri kita sendiri. Contohnya tadi, soal pamer-pameran.
.
Subjudul dari buku ini yakni, Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini, sangat tepat sasaran, apalagi di zaman sekarang orang-orang pasti memiliki media sosial dan sangat mudah untuk pamer. Kalau melulu nyalahin orang seperti, “salah dia kenapa pamer,” ya itu gak akan ada ujung-ujungnya.
.
Jadi kendalikan apa yang bisa kita kendalikan, bukannya malah mengendalikan apa yang sulit (kalau enggan berkata mustahil) untuk kita kendalikan.
.
Yang gue suka dari buku ini tidak berbicara soal “kita harus berpikir positif” seperti kebanyakan buku-buku self-improvement/help lainnya. Bahkan penulisnya menyatakan bahwa sekadar menyuruh orang untuk berpikir positif malah bisa membuat terlena. Ilustrasinya yang disuguh oleh Levina Lesmana sangat representatif alias tidak “asal gambar doang”. 😁
.
⭐Overall, I rated this book with 4.5 of 5
.
This is what I get. Share what you get.
.
#bookreview #filosofiteras #selfhelp #book
https://www.instagram.com/p/B4NTjb9BCSn/?igshid=xe3dy46nu74q